Telah kukirimkan aneka rupa puisi cinta sarat makna padanya,
yang ia kembalikan hanya hampa
Dia, peneduh gundah.
Perlahan menjauh dari rasa.
Hingga terpaksa ku reguk rindu hingga mabuk dan mati rasa.
Dia, pelukis senyum indah.
Perlahan menghilang dari saput warna.
Hingga terpaksa ku ukir sendiri jelita di jelaga puspa rupa.
* aku menyerah?? Tentu saja tidak ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar