Minggu, 30 September 2012

Gundahku

Ada yang tak biasa pada hari yang juga berbeda
Asing dan baru, ia mengambil alih cerminku
Namun tak menyentuh jambangan rasa
Sesaat waktuku abadi, karena telah kulabuhkan jangkar waktuku disana
Aku tak percaya ini,
Bagaimana bisa aku sejauh ini?
Perlahan nyaman itu kurasa,
meskipun sesak turut mengambil jatahnya
Aku menemukan setitik celah untuk titik temu yang kudamba
Antara yakin dan ragu kuteruskan langkah
Temukan tepian tuk melabuhkan gundah
Namun, aku kembali salah
Kembali aku pada lampau seolah melihat cermin saja
Jasad hampa yang mencari dan terus berlari tuk lampiaskan sesakku
Dan kembali aku buta, tersesat dibelantara rasa, dirimba sang pecinta
Kulihat ada rona jingga, berpendar berusaha menarik rasa
Tapi aku lari, hendakku sembunyi.
Jenuh ia ada lagi
Lelah jiwa raga karenanya, meskipun ia cahaya yang kudamba.

*terinspirasi dari seseorang yang “sesuatu” telah menjajah hatinya dimasa lampau. Hehehe.. Peace yaa (^_^)v

Terasa Nyata

Telah kukirimkan aneka rupa puisi cinta sarat makna padanya, 
yang ia kembalikan hanya hampa
Dia, peneduh gundah.
Perlahan menjauh dari rasa.
Hingga terpaksa ku reguk rindu hingga mabuk dan mati rasa.
Dia, pelukis senyum indah.
Perlahan menghilang dari saput warna.
Hingga terpaksa ku ukir sendiri jelita di jelaga puspa rupa.

*
aku menyerah?? Tentu saja tidak ^^

Kesahku

Istirahat sejenak dipelataran trotoar jalanan yang tak kuketahui dimana
Ahh, apa peduliku...
Toh ia pun tak peduli akan hadirku.
Sepi sangat.
Hanya ada sepoi angin membawa debu yang bergulungan.
Ku pejamkan mata, hembuskan nafas sekeras kerasnya
dan kusandarkan punggungku pada dinding yang muncul entah darimana.
Berharap hanya bangun ketika sangkakala kedua itu ditiupkan.